Senin, 29 November 2010

Pembelajaran

Guru dan Pembelajaran Tematik

Oleh: Sumadji, M.Pd

Peserta didik yang berada pada level sekolah dasar kelas satu hingga kelas tiga berada pada rentangan usia dini. Pada usia itu seluruh aspek perkembangan kecerdasan, seperti kecerdasan intelektual (IQ), kecerdasan emosional (EQ), dan kecerdasan spiritual (SQ) berkembang sangat pesat. Umumnya mereka masih melihat segala sesuatu sebagai satu kesatuan yang utuh dan memahami hubungan antara konsep secara sederhana. Proses pembelajaran masih bergantung kepada objek-objek kongkret dan pengalaman yang dialami secara langsung.

Karakteristik perkembangan anak pada masa itu pertumbuhan fisiknya mencapai kematangan. Mereka telah mampu mengontrol tubuh dan keseimbangannya. Mereka telah dapat melompat dengan kaki secara bergantian. Mereka dapat mengendarai sepeda roda dua, menangkap bola dan telah berkembang koordinasi tangan dan mata untuk memegang pensil maupun gunting. Perkembangan sosialnya adalah mereka dapat menunjukkan keakuannya tentang jenis kelaminnya, telah mulai berkompetisi dengan teman sebaya, mempunyai sahabat, mampu berbagi, dan mandiri.

Perkembangan emosinya dapat mengekspresikan reaksi terhadap orang lain, dapat mengontrol emosi, mampu berpisah dengan orangtua, dan mulai belajar tentang konsep nilai. Untuk perkembangan kecerdasannya ditunjukkan dengan kemampuannya melakukan seriasi, mengelompokkan objek, berminat terhadap angka dan tulisan, meningkatnya perbendaharaan kata, senang berbicara, memahami sebab akibat, dan berkembangnya pemahaman terhadap ruang dan waktu.

Dalam belajar pun memiliki irama dan cara tersendiri. Piaget (1950) menyatakan bahwa setiap anak memiliki cara tersendiri dalam menginterpretasikan dan beradaptasi dengan lingkungannya. Menurutnya, setiap anak memiliki struktur kognitif yang disebut schemata, yaitu sistem konsep yang ada dalam pikiran sebagai hasil pemahaman terhadap objek yang ada dalam lingkungannya.

Pembelajaran tematik adalah pembelajaran terpadu yang menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman bermakna kepada peserta didik. Tema adalah pokok pikiran atau gagasan pokok yang menjadi pokok pembicaraan (Poerwadarminta, 1983).

Pembelajaran tematik lebih menekankan pada penerapan konsep belajar sambil melakukan sesuatu. Karena itu guru perlu mengemas atau merancang pengalaman belajar yang akan mempengaruhi kebermaknaan belajar yang diperoleh anak. Pengalaman belajar yang menunjukkan kaitan unsur-unsur konseptual menjadikan proses pembelajaran lebih efektif. Kaitan konseptual antar mata pelajaran yang dipelajari akan membentuk skema sehingga peserta didik akan memperoleh keutuhan dan kebulatan pengetahuan.

Kreativitas Guru

Bagaimanapun bagusnya konsep pembelajaran tematik akan sia-sia atau tidak akan memiliki dampak yang signifikan bagi peningkatan proses dan hasil pembelajaran apabila gurunya tidak kreatif. Dengan kata lain konsep yang bagus tentang pembelajaran tematik hendaknya dilaksanakan oleh guru yang kreatif. Guru yang kreatif setidaknya harus mampu (1) menyiapkan kegiatan atau pengalaman belajar yang bermanfaat bagi anak, (2) memilih kompetensi dari berbagai mata pelajaran agar menjadi bermakna, dan (3) mengemas pembelajaran menjadi menyenangkan.

Pengalaman belajar yang hendak dilakukan hendaknya dipersiapkan sedemikian rupa oleh guru. Pengalaman belajar itu hendaknya memberikan manfaat bagi anak. Pengalaman yang memberikan manfaat bagi anak akan memberikan pengaruh yang sangat kuat bagi anak untuk mempelajarinya. Selain itu anak benar-benar membutuhkan pengalaman belajar tersebut.

Kompetensi yang ada di dalam kompetensi dasar hanyalah benda mati jika tidak dikemas sedemikian rupa oleh guru yang kreatif. Kompetensi itu hanya berupa uraian yang tiada bermakna. Berbeda apabila kompetensi itu di tangan guru yang kreatif maka akan memberikan makna tersendiri bagi anak. Pembelajaran yang demikian tentu saja merupakan pembelajaran yang mengasyikkan.

Penulis adalah Pengawas TK/SD Kecamatan Krucil Kabupaten Probolinggo dan Sekretaris Jaringan Independen Penulis Probolinggo (JiPP)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar