Selasa, 30 November 2010

SD Bremi I

Motto SD Negeri Bremi I Krucil

“Reading Habit To Long Life Education”

Kecamatan Krucil termasuk wilayah yang berada di dataran tinggi. Karena wilayahnya berada di lereng Gunung Argopuro. Semua masyarakat Probolinggo, tentunya tidak asing lagi dengan nama kecamatan ini. Namun di kecamatan Krucil ini ada yang menarik dan perlu disimak oleh masyarakat.

Gambar : Lokasi SD Bremi I kiri dan Kepala SD Suharto, S.Pd sebelah kanan

Apa yang menarik? Tentunya Desa Bremi. Desa Bremi Kecamatan Krucil Kabupaten Probolinggo, berada sekitar 400 m dari permukaan laut. Jarak antara ibu kota kabupaten kurang lebih 55 km arah tenggara kota Probolinggo. Apabila kita menginginkan pergi ke desa itu, kita bisa meliwati kecamatan Pajarakan lalu ke desa Condong Kec. Gading dan kemudian mnuju ke Bremi. Atau dapat melewati kecamatan Gending, Maron, Condong kemudian ke Bremi.

SD Negeri Bremi I merupakan sekolah yang perlu disimak oleh masyarakat umum. Dan khususya oleh masyarakat Probolinggo. Di SD ini yang mempunyai motto “ Reading Habit To Long Life Education”. Motto itu tentunya mempunyai alasan tersendiri. Dengan jelas bahwa motto itu mempunyai mana “membaca lingkungan untuk pendidikan seumur hidup atau sepanjang hidup”

Dari mana itu makanya SD ini mempunyai tujuan agar siswanya bahwa dapat membaca lingkungan karena lingkungan ini penerapan pelaksanaan pendidikan seumur hidup. Oleh karena itu siswanya perlu mencintai lingkungan dalam kurun waktu sepanjang hidup, dan agar lingkungan akan terjaga dengan apik sehingga tercipta lingkungan yang indah dan ramah dengan penghuninya.

SD Negeri Bremi I ini dikategorikan sebagai SD Adiwiyata. Karena pada kepemimpinan Suharto, S.Pd, Bremi I mendapat juara II pada tahun 2008, dalam “Lomba Sekolah Peduli dan Berbudaya Lingkungan” yang diadakan di tingkat kabupaten. Lomba dalam rangka memperingati hari lingkungan hidup se dunia tahun 2008 di Probolinggo.

Piagam kejuaraan No. 002.6/248/426.303/2008 itu yang ditandatangani oleh Bupati Probolinggo Drs. H. Hasan Aminudin, M.Si. Oleh karena itu tidak mengherankan bahwa SD ini perlu di simak lebih lanjut oleh masyarakat, walau pun lokasinya berada di kaki gunung.

Pada waktu SD Bremi I ini mengikuti lomba tersebut, ia mendapat pembinaan, dengan KLH Kabupaten Probolinggo di bawah kepemimpinan Ir.Dewi Korina, M.MA. Pembinaan dari KLH ini tentunya membuah hasil yang sangat baik kepada guru- guru sehingga dapat diterapkan ke anak didiknya.

Dalam menjalin kerja sama bukan hanya dilakukan dengan KLH Kabupaten Probolinggo saja, melainkan juga dari pihak KTI yaitu Kutai Timber Indonesia yang bergerak di bidang Perusahaan Pembuatan Triplek. Kerja sama dengan KTI ini siswa sering dibantu dengan bea siswa, buku atau sragam sekolah, dan pihak perusahaan mempunyai tujuan agar wali murid SDN Bremi I berusaha untuk menjaga kebon kayu Segon milik KTI agar dijaga atau tidak dirusak warga Bremi. Ini merupakan kerja sama yang saling menguntungkan ( Muttualistis)

Akhir- akhir ini, berita SD yang berpredikat SD Adiwiyata telah menyebar di masyarakat, khususnya dikalangan dunia pendidikan. Oleh karena itu banyak tamu yang datang di SD ini. Tamu itu yang berdalih studi banding ada yang dari dalam negeri maupun luar negeri. Di antaranya dari luar negeri antara lain : Lavina Stopponi dari Italia dan Bab Canon, Stuart Werton MBE yang bermarkas di Jakarta.

Sumadji, Pengawas TK/SD Kecamatan Krucil

Senin, 29 November 2010

Pembelajaran

Guru dan Pembelajaran Tematik

Oleh: Sumadji, M.Pd

Peserta didik yang berada pada level sekolah dasar kelas satu hingga kelas tiga berada pada rentangan usia dini. Pada usia itu seluruh aspek perkembangan kecerdasan, seperti kecerdasan intelektual (IQ), kecerdasan emosional (EQ), dan kecerdasan spiritual (SQ) berkembang sangat pesat. Umumnya mereka masih melihat segala sesuatu sebagai satu kesatuan yang utuh dan memahami hubungan antara konsep secara sederhana. Proses pembelajaran masih bergantung kepada objek-objek kongkret dan pengalaman yang dialami secara langsung.

Karakteristik perkembangan anak pada masa itu pertumbuhan fisiknya mencapai kematangan. Mereka telah mampu mengontrol tubuh dan keseimbangannya. Mereka telah dapat melompat dengan kaki secara bergantian. Mereka dapat mengendarai sepeda roda dua, menangkap bola dan telah berkembang koordinasi tangan dan mata untuk memegang pensil maupun gunting. Perkembangan sosialnya adalah mereka dapat menunjukkan keakuannya tentang jenis kelaminnya, telah mulai berkompetisi dengan teman sebaya, mempunyai sahabat, mampu berbagi, dan mandiri.

Perkembangan emosinya dapat mengekspresikan reaksi terhadap orang lain, dapat mengontrol emosi, mampu berpisah dengan orangtua, dan mulai belajar tentang konsep nilai. Untuk perkembangan kecerdasannya ditunjukkan dengan kemampuannya melakukan seriasi, mengelompokkan objek, berminat terhadap angka dan tulisan, meningkatnya perbendaharaan kata, senang berbicara, memahami sebab akibat, dan berkembangnya pemahaman terhadap ruang dan waktu.

Dalam belajar pun memiliki irama dan cara tersendiri. Piaget (1950) menyatakan bahwa setiap anak memiliki cara tersendiri dalam menginterpretasikan dan beradaptasi dengan lingkungannya. Menurutnya, setiap anak memiliki struktur kognitif yang disebut schemata, yaitu sistem konsep yang ada dalam pikiran sebagai hasil pemahaman terhadap objek yang ada dalam lingkungannya.

Pembelajaran tematik adalah pembelajaran terpadu yang menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman bermakna kepada peserta didik. Tema adalah pokok pikiran atau gagasan pokok yang menjadi pokok pembicaraan (Poerwadarminta, 1983).

Pembelajaran tematik lebih menekankan pada penerapan konsep belajar sambil melakukan sesuatu. Karena itu guru perlu mengemas atau merancang pengalaman belajar yang akan mempengaruhi kebermaknaan belajar yang diperoleh anak. Pengalaman belajar yang menunjukkan kaitan unsur-unsur konseptual menjadikan proses pembelajaran lebih efektif. Kaitan konseptual antar mata pelajaran yang dipelajari akan membentuk skema sehingga peserta didik akan memperoleh keutuhan dan kebulatan pengetahuan.

Kreativitas Guru

Bagaimanapun bagusnya konsep pembelajaran tematik akan sia-sia atau tidak akan memiliki dampak yang signifikan bagi peningkatan proses dan hasil pembelajaran apabila gurunya tidak kreatif. Dengan kata lain konsep yang bagus tentang pembelajaran tematik hendaknya dilaksanakan oleh guru yang kreatif. Guru yang kreatif setidaknya harus mampu (1) menyiapkan kegiatan atau pengalaman belajar yang bermanfaat bagi anak, (2) memilih kompetensi dari berbagai mata pelajaran agar menjadi bermakna, dan (3) mengemas pembelajaran menjadi menyenangkan.

Pengalaman belajar yang hendak dilakukan hendaknya dipersiapkan sedemikian rupa oleh guru. Pengalaman belajar itu hendaknya memberikan manfaat bagi anak. Pengalaman yang memberikan manfaat bagi anak akan memberikan pengaruh yang sangat kuat bagi anak untuk mempelajarinya. Selain itu anak benar-benar membutuhkan pengalaman belajar tersebut.

Kompetensi yang ada di dalam kompetensi dasar hanyalah benda mati jika tidak dikemas sedemikian rupa oleh guru yang kreatif. Kompetensi itu hanya berupa uraian yang tiada bermakna. Berbeda apabila kompetensi itu di tangan guru yang kreatif maka akan memberikan makna tersendiri bagi anak. Pembelajaran yang demikian tentu saja merupakan pembelajaran yang mengasyikkan.

Penulis adalah Pengawas TK/SD Kecamatan Krucil Kabupaten Probolinggo dan Sekretaris Jaringan Independen Penulis Probolinggo (JiPP)